
Dapat
Menghambat Titian Sukses
Suatu peristiwa di
masa lalu atau kecil dapat berbekas dan memengaruhi eksistensi kita saat ini.
Parahnya, bila trauma masa lalu itu menhambat langkah menjalani hidup di dunia
nayata. Padahal hidup terus berjalan, harus berani berkompetisi, sukses dan
sebagainya. Bila terhambat trauma, bagaimana mengatasinya?
Mungkin kita mengalaminya, meski barangkali kita
bisa keluar dari masalah tersebut dan terus maju meraih atau
mempertahankan prestasi. Tapi juga
banyak orang yang tetap terkukung, terus berlindung pada situasi (posisi) saja,
tak percaya diri atau serba takut melakukan hal lainnya.
Kejadian yang dialami seseorang menurut psikolog
Rosdiana S. Tarigan M.Psi, MHPEd, memang dapat memengaruhi kehidupan seseorang
selanjutnya. Meskipun pengaruhnya bisa berbeda pada setiap orang, tergantung
pada jenis traumanya. Namun pada trauma yang cukup berat dan mekanisme
pertahanan diri orang tersebut lemah, akan berdampak pada kehidupan
selanjutnya.
TRAUMA MENINGGALKAN BEKAS MENDALAM
Trauma berasal dari bahasa Yunani yang berarti
luka. Kata tersebut digunakan untuk menggambarkan situasi akibat suatu
peristiwa yang dialami seseorang. Psikolog Rosdiana S. Tarigan M.Psi, MHPEd
menyatakan, trauma dalam istilah psikolog berarti suatu benturan atau suatu
kejadian yang dialami seseorang dan meninggalkan bekas. Biasanya bersifat
negatif, dalam istilah psikologi disebut post-traumatic syndrome disorder
(PTSD).
Dalam perkembangannya, berdasarkan dampak yang
ditimbulkan, dikategorikan dua, yaitu trauma fisik dan psikologis. Trauma fisik
adalah trauma yang diakibatkan oleh suatu kejadian yang melukai secara fisik,
misalnya kecelakaan,kerap mendapat pukulan, dan sebagainya. Sedangkan trauma
psikologis diakibatkan kejadian yang melukai secara batin, misalnya di
banding-bandingkan dengan saudara atau teman, sering dicaci maki, dan dilabeli
anak bodoh, pemalas, dan lain-lain.
Keduanya memilikipotensi dampak yang sama, namun
ditegaskan Rosdiana, trauma psikologislah yang dampaknya paling burukdan bisa
menetap. Luka di badan mungkin mudah dan sembuh, tapi luka batin lebih sakit.
Tak da yang tahu pastinya kecuali orang itu sendiri.
Penyebab trauma bisa beragam bentuknya, mulai dari
kekerasan, kehilangan atau perpisahan, eksploitasi, dan lain sebagianya. Namun
trauma yang seringkali menimbulkan dampak negatif bagi masa depan seseorang
adalah trauma yang disebabkan kejadian yang sangat memukul dalam lingkungan
kelurga, seperti perceraian, kematian, dan lain-lain. Apalagi jika hal-hal
tersebut terjadi secara teru-menerus dalam waktu berkepanjangan.
Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa
trauma berdampak pada perkembangan otak anak yang pada gilirannya dapat
menimbulkan meningkatnya “arousal”, kewaspadaan berlebihan, agresi,
hiperaktivitas, impulsivitas, dan sulit memusatkan pikiran. Hal-hal tersebut
akan berakibat buruk pada pencapaian keterampilan, prestasi kademik, integrasi
sosial, pemecahan masalah, dan kesehatan mental umumnya.
Namun trauma psikologis ini terjadi pada semua
orang tanpa mengenal usia dan jenis kelamin. Besar kecilnya dampak yang
ditimbulkan juga bisa berbeda pada setiap orang tergantung kepada faktor
internal orang tersebut, terutama menyangkut apa yang dia anggap penting dan
kekuatan mental orang tiu sendiri.
Pada orang yang mentalnya (karakter atau
kepribadian Red) kurang kuat, trauma ini bisa menetap hingga dewasa dan
mempengaruhi hidupnya. Contohnya, seoarang anak yang sejak kecil tidak
dipercaya orang tua dan lingkungannya. Dianggap bodoh, lamban, dan serba salah
hingga dibanding-bandingkan dengan saudaranya.
Penganggapan atau labeling yang diberikan padanya
dapat menumbuhkan konsep atau citra diri negatif pada diri anak. Di bawah sadarnya
akan terbangun bahwa ia memang seperti itu. Akhirnya menjadi takut melakukan
apa saja lantaran dibebani kecemasan.
Dengan trauma semacam itu, jalan hidup selanjutnya
bisa ditebak. Mungkin ia menjadi orang dewasa yang peragu, banyak pertimbangan
namun tak bisa mengambil keputusan, tidak percaya diri, minder, seba takut dan
sebagainya. Padahal kemampuan bersikap positif sangat sangat diperlukan dalam
kehidupan nyata. Seseorang bisa suses, entah itu dalam karier, profesi,
prestasi, dan sebagainya bila ia bisa mengaktualisasikan sikap positif itu.
Sebaliknya seseorang yang dihantui trauma mungkin tersendat dalam meniti jalan
suksesnya.
HARUS TETAP MELANGKAH
Apakah seseoarang yang mengalami peristiwa negatif
pasti mengalami trauma? Tidak selalu demikian. Tergantung pada dukungan
lingkungan sosial dimana anak itu tumbuh. Orang tua bercerai namun tetap mampu
menjalankan tugasnya sebagai orang tua memberikan kebutuhan anaknya, lingkungan
lain bisa menerima bahkan mendukungnya, anak pun akan bisa eksis dengan baik.
Bahkan meskipun traumanya sangat dalam, akibat
kekerasan fisik, bagi sebagian orang mungkin mampu bangkit lagi, karena support
lingkungannya. Tapi sebagian lain bisa saja terpuruk sampai menggangu dan
menghambat perjalanan hidupnya.
Untuk mempermudah, kita harus beraniterbuka dan
mau share dengan orang terdekat serta terbuka menerima inform,asi dari luar.
Saat ini banyak buku-buku motivasi yang beragam. Membacanya biasa memberikan
wawasan sekaligus pencerahan yang dibutuhkan untuk melangkah lebih terarah di
dunia nyata. Dan Support group dapat membantu pemulihan diri.
Bila pengalaman sangat traumatis hingga
memengaruhi kondisi kejiwaan cukup parah, anda membutuhkan terapi dari ahli.
“Jangan ragu meminta bantuan orang lain. Masa depan kita sangat penting.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar