Kamis, 10 Mei 2012

trauma bisa menghambat


Trauma
Dapat Menghambat Titian Sukses
Suatu peristiwa di masa lalu atau kecil dapat berbekas dan memengaruhi eksistensi kita saat ini. Parahnya, bila trauma masa lalu itu menhambat langkah menjalani hidup di dunia nayata. Padahal hidup terus berjalan, harus berani berkompetisi, sukses dan sebagainya. Bila terhambat trauma, bagaimana mengatasinya?

TTidak sedikit orang yang ragu-ragu atau tidak percaya diri bisa melakukan tugas yang dipercayakan padanya.
Mungkin kita mengalaminya, meski barangkali kita bisa keluar dari masalah tersebut dan terus maju meraih atau mempertahankan  prestasi. Tapi juga banyak orang yang tetap terkukung, terus berlindung pada situasi (posisi) saja, tak percaya diri atau serba takut melakukan hal lainnya.
Kejadian yang dialami seseorang menurut psikolog Rosdiana S. Tarigan M.Psi, MHPEd, memang dapat memengaruhi kehidupan seseorang selanjutnya. Meskipun pengaruhnya bisa berbeda pada setiap orang, tergantung pada jenis traumanya. Namun pada trauma yang cukup berat dan mekanisme pertahanan diri orang tersebut lemah, akan berdampak pada kehidupan selanjutnya.

TRAUMA MENINGGALKAN BEKAS MENDALAM
Trauma berasal dari bahasa Yunani yang berarti luka. Kata tersebut digunakan untuk menggambarkan situasi akibat suatu peristiwa yang dialami seseorang. Psikolog Rosdiana S. Tarigan M.Psi, MHPEd menyatakan, trauma dalam istilah psikolog berarti suatu benturan atau suatu kejadian yang dialami seseorang dan meninggalkan bekas. Biasanya bersifat negatif, dalam istilah psikologi disebut post-traumatic syndrome disorder (PTSD).
Dalam perkembangannya, berdasarkan dampak yang ditimbulkan, dikategorikan dua, yaitu trauma fisik dan psikologis. Trauma fisik adalah trauma yang diakibatkan oleh suatu kejadian yang melukai secara fisik, misalnya kecelakaan,kerap mendapat pukulan, dan sebagainya. Sedangkan trauma psikologis diakibatkan kejadian yang melukai secara batin, misalnya di banding-bandingkan dengan saudara atau teman, sering dicaci maki, dan dilabeli anak bodoh, pemalas, dan lain-lain.
Keduanya memilikipotensi dampak yang sama, namun ditegaskan Rosdiana, trauma psikologislah yang dampaknya paling burukdan bisa menetap. Luka di badan mungkin mudah dan sembuh, tapi luka batin lebih sakit. Tak da yang tahu pastinya kecuali orang itu sendiri.
Penyebab trauma bisa beragam bentuknya, mulai dari kekerasan, kehilangan atau perpisahan, eksploitasi, dan lain sebagianya. Namun trauma yang seringkali menimbulkan dampak negatif bagi masa depan seseorang adalah trauma yang disebabkan kejadian yang sangat memukul dalam lingkungan kelurga, seperti perceraian, kematian, dan lain-lain. Apalagi jika hal-hal tersebut terjadi secara teru-menerus dalam waktu berkepanjangan.
Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa trauma berdampak pada perkembangan otak anak yang pada gilirannya dapat menimbulkan meningkatnya “arousal”, kewaspadaan berlebihan, agresi, hiperaktivitas, impulsivitas, dan sulit memusatkan pikiran. Hal-hal tersebut akan berakibat buruk pada pencapaian keterampilan, prestasi kademik, integrasi sosial, pemecahan masalah, dan kesehatan mental umumnya.
Namun trauma psikologis ini terjadi pada semua orang tanpa mengenal usia dan jenis kelamin. Besar kecilnya dampak yang ditimbulkan juga bisa berbeda pada setiap orang tergantung kepada faktor internal orang tersebut, terutama menyangkut apa yang dia anggap penting dan kekuatan mental orang tiu sendiri.
Pada orang yang mentalnya (karakter atau kepribadian Red) kurang kuat, trauma ini bisa menetap hingga dewasa dan mempengaruhi hidupnya. Contohnya, seoarang anak yang sejak kecil tidak dipercaya orang tua dan lingkungannya. Dianggap bodoh, lamban, dan serba salah hingga dibanding-bandingkan dengan saudaranya.
Penganggapan atau labeling yang diberikan padanya dapat menumbuhkan konsep atau citra diri negatif pada diri anak. Di bawah sadarnya akan terbangun bahwa ia memang seperti itu. Akhirnya menjadi takut melakukan apa saja lantaran dibebani kecemasan.
Dengan trauma semacam itu, jalan hidup selanjutnya bisa ditebak. Mungkin ia menjadi orang dewasa yang peragu, banyak pertimbangan namun tak bisa mengambil keputusan, tidak percaya diri, minder, seba takut dan sebagainya. Padahal kemampuan bersikap positif sangat sangat diperlukan dalam kehidupan nyata. Seseorang bisa suses, entah itu dalam karier, profesi, prestasi, dan sebagainya bila ia bisa mengaktualisasikan sikap positif itu. Sebaliknya seseorang yang dihantui trauma mungkin tersendat dalam meniti jalan suksesnya.

HARUS TETAP MELANGKAH
Apakah seseoarang yang mengalami peristiwa negatif pasti mengalami trauma? Tidak selalu demikian. Tergantung pada dukungan lingkungan sosial dimana anak itu tumbuh. Orang tua bercerai namun tetap mampu menjalankan tugasnya sebagai orang tua memberikan kebutuhan anaknya, lingkungan lain bisa menerima bahkan mendukungnya, anak pun akan bisa eksis dengan baik.
Bahkan meskipun traumanya sangat dalam, akibat kekerasan fisik, bagi sebagian orang mungkin mampu bangkit lagi, karena support lingkungannya. Tapi sebagian lain bisa saja terpuruk sampai menggangu dan menghambat perjalanan hidupnya.
Untuk mempermudah, kita harus beraniterbuka dan mau share dengan orang terdekat serta terbuka menerima inform,asi dari luar. Saat ini banyak buku-buku motivasi yang beragam. Membacanya biasa memberikan wawasan sekaligus pencerahan yang dibutuhkan untuk melangkah lebih terarah di dunia nyata. Dan Support group dapat membantu pemulihan diri.
Bila pengalaman sangat traumatis hingga memengaruhi kondisi kejiwaan cukup parah, anda membutuhkan terapi dari ahli. “Jangan ragu meminta bantuan orang lain. Masa depan kita sangat penting.”